Tradisi Bau Nyale di Lombok

Alkisah, hiduplah seorang putri yang sangat cantik rupawan bernama Putri Mandalika. Selain cantik, Putri Mandalika juga sangat baik budi pekertinya. Tidak sombong lagi pandai menabung 🙂
Karena kecantikan dan keluhuran budinya, banyak sekali Raja dan Pangeran yang jatuh cinta dan ingin mempersunting Putri Mandalika.

Persaingan cinta para raja ini bahkan hampir menimbulkan perang antar kerajaan.
Putri Mandalika sangat gundah dengan kondisi tersebut. Dia tidak mampu memilih, siapa Raja yang akan diterimanya. Karena siapapun yang dia pilih, pasti akan menimbulkan peperangan.

Akhirnya, Demi rasa cintanya pada rakyat, Putri Mandalika memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan dirinya ke laut.
Keajaibanpun terjadi. Putri Mandalika berubah menjadi cacing laut yang berwana-warni atau Nyale dalam bahasa Sasak.

Kisah legenda inilah yang melatari tradisi Bau Nyale di Lombok, terutama di pantai selatan Lombok Timur seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan dan kecamatan Jerowaru.

Tradisi Bau Nyale sesuai namanya, Bau berarti menangkap dan Nyale adalah cacing laut, merupakan tradisi menangkap cacing laut (Nyale) yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Bau Nyale rutin dilakukan oleh masyarakat pesisir Lombok pada bulan purnama pada bulan ke 10 dan 11 berdasarkan kalender Suku Sasak, atau sekitar bulan Februari dan Maret.

Biasanya tradisi menangkap Nyale ini dilakukan saat menjelang subuh. Pada waktu tersebut Nyale berenang ke permukaan laut, hingga mudah ditangkap.

Salam Kreatif,

Thiar Bramanthia
Inisiator Akoe Indonesia | Konsultan Kreatif 

Thiar Bramanthia Author

Thiar Bramanthia adalah seorang Konsultan Kreatif (CreativePreneur), Pemerhati Budaya Aseli Indonesia, Blogger Aktif sekaligus merupakan Inisiator Akoe Indonesia, yang doyan minum kopi ketal sambil dengerin musik metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *